Jumat, 04 Juni 2010

Kita orang Kota, rentan pada Depresi

Foto - PBASE.com

Statement dari salah satu pojok tulisan media itu cukup membuatku berfikir sesaat, apa yang melatar belakangi kondisi tersebut ??

Sambil 'nyruput' kopi pagi bikinan istri, kucoba amati diri sendiri, kira-kira apa ya yang kualami dari mulai bangun tidur sampe mau tidur lagi, ternyata memang benar ada 'warna' tekanan atas runitas kita sebagai komunitas Urban Life yang notabene hidup di perkotaan.

Begitu kita keluar rumah ternyata benar ga sadar tekanan sudah pada mulai merayapi kita, contoh sederhana adalah saat dijalan raya yang macet, klakson taan...tiiin...tan...tin disana sini, belum lagi sliyaaat...sliuuut sepeda motor ku untuk bisa cepat lepas dari kondisi yang menyebalkan ini.
Contoh lain adalah terkait beban fikir yang pada akhirnya menjadi beban bathin yaitu kekhawatiran atas suatu hal kebutuhan mendesak entah urusan kuliah, pekerjaan, kekhawatiran tidak mampu cukupi biaya hidup keluarga atau diri sendiri, angka kebutuhan hidup yang kian naik, biaya : Kontrak Rumah, Sekolah Anak, Tabungan yang mirip 'bonsai' ga tinggi tinggi, alias masih juga sedikit, Rumah masih nebeng sama mertua kalopun ada tawaran rumah itu juga sudah jauh dari Kantor bila ada yang agak deket harganya udah ga kejangkau,itu semua contoh pemicu stress.

Bicara harapan hidup layak,
memang terkadang kita terlampau lambungkan angan pada hal yang masih abu-abu, Kota yang gemerlap begitu menggairahkan dan menjanjikan untuk cari nafkah entah dengan berbagai upaya dan kemungkinannya, hanya saja begitu pada titik yang tidak sampai harapan, stress mulai merayap hingga pada jalan darah kita he..he.he... akhirnya apa ?? kita cuman bisa bengong, males makan, cepet tersinggungan. Udah tahu gitu kadang penampilan kita masih masih pengen sedikit mengkilap mak 'clink' akibat korban iklan, kaco dah !

Kata Dokter Jiwa yang memang ahlinya buat nganalisa yang begituan, faktor pemicu stress ada berapa sebab selain yang kondisi diatas tadi, yaitu : Faktor Genetik, Biologik (perubahan kimia di Otak kita), Sifat Kepribadian, Pengalaman Buruk, Konflik Keluarga, Tagihan Rekening yang numpuk, Hilangnya Jabatan, Konflik Keluarga atau Teman dan masih banyak lainnya yang kesemuanya berhubungan dengan fikiran dan perasaan kita.

Ciri-Ciri
Stress, mudah dikenali.
Kata mereka, adalah : mudah lelah, kurang fokus / kurang konsentrasi, tidur tak lagi nyaman & nyenyak, males maem, merasa bersalah atas sesuatu yang tidak beralasan, murung, sedih yang ga jelas sebabnya. Ada lagi seperti gangguan lambung, nyeri kepala yang ga jelas penyebabnya, saluran gangguan nafas. Kata mereka ini disebut keluhan 'simtomatik', ini sering menyulitkan pengobatan karena termasuk 'depresi terselubung', bila ini didiamkan terus dan berlangsung lama, sangat dimungkinkan yang bersangkutan bisa 'depresi'.

Khabar yang beredar, disampaikan bahwa Wanita lebih rentan karena faktor biologis tubuhnya, namun 'tingkat derajat keparahannya' ternyata Pria lebih banyak terkena depresi dibanding Wanita, ini bisa dibuktikan tingkat hunian Pria lebih banyak dibanding Wanita di Rumah Sakit Jiwa. Pertanyaannya kiat dan upaya apa agar kita tidak terkena depresi itu ??.

Saya coba carikan beberapa referensi yang bisa dijadikan Tips, seperti dibawah ini :


Tips Praktis Hilangkan Stress.


Minum Teh.
Ternyata ampuh pengaruhi tingkat hormon stress dalam tubuh, karena kandungan catechins, polyphenols. flavonoids dan asam amino yang mampu pengaruhi 'neurotransmitter' Otak dan kurangi level cortisol (hormon stress) dalam darah juga Makan Kacang-kacangan, ternyata mereka kaya akan nutrisi penghilang stress, seperti vitamin B, Zink, Vitamin E dan Antioksidan ; ini disampaikan oleh para peneliti Inggris.


Konsumsi Vitamin C.
Dosis 1.000mg/hari, mampu kurangi level hormon stress dalam darah hingga redakan respon tubuh terhadap stress ; ini disampaikan oleh para Peneliti dari University of Alabama.


Kondisikan Fikiran.
Maksudnya seperti alihkan fikiran kita, misal lagi pada antrian panjang yaitu dengan ngobrol sama temen sebelah. Ini merupakan upaya netralkan perubahan psycologis (penyebab stress) ; disampaikan oleh Dr. Jay Winner, M.D - pengarang buku Take the Stress Out of Your Life).


Usap Lingkar Daun Telinga kita.
Untuk kurangi ketegangan, karena ternyata pada daun telinga kita ada semacam titik - titik 'marma' (serupa dengan titik akupuntur), pijatlah telinga kanan dengan tangan kanan, dan telinga kiri dengan tangan kiri ; disampaikan oleh Lissa Coffey - Pengarang dan Produser DVD Dosha Yoga.


Hirup Aroma Terapi.
Ternyata punyai efek penenang seketika untuk redakan ketegangan. (ide bagus buat di ruang kerja atau kamar saat mo bobo, tapi bila punya duit, kalo ga ya cukup bayangin aja he.he.he..) ; ini disampaikan oleh Carol Duncan, Aromateraphis dan Pemilik Massage Central.


Ketawa Keras.
Ternyata ampuh bikin hormon pereda stress terdongkrak naik dan mampu bertahan 24 jam ; ini hasil study Irvine dari Universtiy of California.


Sedangkan Tips dari saya yang pernah saya coba dan ternyata lebih ampuh dibanding lainnya (maaf....ini sekedar share tak bermaksud 'menggurui' dan hanya berbagi saja antar kita), adalah =

Dzikir.
Bagi yang beragama Islam, bagi agama lain bisa melalui cara atau metoda masing masing, yang jelas kita semakin dekat dengan Allah dan terlindungi, begitu juga perasaan & fikiran jadi tenang.


Pemahaman pasrah diri kepada Allah.
Dalam kehidupan ini kita hanyalah 'ciptaan' Allah, sementara Sang Penguasa Tunggal adalah Allah. Disini jelas sudah bahwa kita tak punya hak 'menentukan' ini dan itu atas hidup kita (Rejeki, Harta, Istri/Suami, Anak atau Jabatan kita - semuanya sudah pada rel dan tempatnya masing-masing). Bila kita sudah berani tentukan ini dan itu dengan kalimat 'harus bisa' berarti kedudukan kita artinya lebih tinggi dibanding Allah, Kondisi ini jelas tidak mungkin. Jadi hak & upaya kita hanyalah memohon kepada NYA, berusaha dan berdoa agar keinginan kita bisa ada, bila tidak terwujudpun pasti Allah punya rencana dan hikmah lain atas diri kita.


Mengatasi Masalah Tanpa Masalah.
Slogan Jawatan Pegadian ini memang benar, artinya hindari dan tekan sedalam mungkin emosi yang ada saat hadapi dan selesaikan masalah. Untuk kesekian kali terbukit bahwa 'menu emosi' yang campuri 'adonan penyelesaian masalah' hanya menambah masalah baru. Upaya musyawarah mufakat adalah yang terbaik dalam penyelesaian konflik bersama.


Untuk sementara 'Obrolan Bahasan Depresi', yang saya tahu adalah itu, bila ada dari temen-temen Blogger yang punya ide atau wawasan lain dan bisa dibagikan untuk kebaikan bersama, silahkan. Hal ini akan semakin baik dan bermanfaat untuk semuanya.

Pamit dulu dan Salam,


Satrio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar