Selasa, 29 Juni 2010

Tentang Ibu dan Eyang Putri bagi anak-anak ku


Ketika aku 'sowan' (datang menjenguk) ke Ibu beberapa hari yang lalu sama 'si Kakak' sepanjang jalan pulang aku berfikir tentangnya.

Tak terasa kini Beliau sudah 82 tahun, hampir 45 tahun dia temani aku
Rumah yang ga' seberapa besar ini, kini kian lengang dan berdebu, karena anak-anaknya sudah pada tinggalkan rumah untuk mencari kehidupannya masing-masing, termasuk aku,
Ga' lagi rame kayak dulu saat kita ber 6 masih kumpul kadang juga ribut.

Bayang dan kenangan itu berkelebat begitu utuhnya,
Dimana saat dulu Beliau masih begitu sehatnya, penuh semangat ajarkan kepada kami akan sebuah bentuk kemandirian, disiplin dengan waktu dan selalu tegur kami bila alpa terhadap hal yang sudah terjadwal, entah itu sholat (walo beliau beragama lain), puasa, jadwal main, belajar, hingga tugas-tugas rumah yang sudah menjadi kewajiban masing-masing anak.

Bleesssshh.....!!! semuanya kini hanya kenangan.
seperti foto-foto di dinding itu.

Nantipun bila masanya tiba, aku juga pasti seperti Ibu
Ups, mendadak kangen sama Istriku yang kebetulan ga' ikut temani aku dan kakak. Tau kenapa.

Tentang Ibu,
Untuk jalan saja sudah mulai susah, rambut beliaupun sudah mulai rata dengan uban, dan menipis, tangannya pun sudah mulai gemetar, rapuh saat memegang sesuatu.
Waktu ini begitu cepat merubah semuanya, begitu tak terasa.

Sama si Kakak, aku dipanggil untuk diajak bicara tentang kemungkinan hari akhir beliau ditepian ranjang tua ini (bapak sudah lama almarhum saat kita-kita masih kecil).

Duuuh...jujur aku ga' siap dengan keadaan ini,
Dengan lembutnya Beliau berpesan ini dan itu, begitu detailnya satu persatu dan minta ini agar diingat benar dan diharapkan aku dapat menyampaikan kepada saudara-saudaraku nantinya : "satrio kutitipkan itu semua padamu dan aturlah dengan adil, karena hanya dirimu lah yang bisa bijak untuk hal yang peka ini".

Sementara si Kakak tentu heran perubahan sikapku, tapi sungguh bijak dia lebih memilih diam dan tak satupun keluar pertanyaan darinya.


Hm...
Tak terasa aku hela nafas dalam-dalam, moga saat itu Ibu ga' denger kuatnya tarikan nafasku
Tak terasa mata ini sudah mulai buram karena ada air mata disana (cengeng ya...).
untungnya malem hari juga sinar temaram lampu kamar beliau.
Perasaan dan fikirku begitu ga keruan
Rasanya aku lebih siap hadapi 10 orang yang marah dibanding dengan 1 orang seperti Ibu saat ini.

Aku hanya bisa diam dan sesekali menatap beliau, sementara beliau tangkupkan jemari tangannya yang kian keriput. Sinar mata itu masih jernih dan lembut menatap seperti dulu, tapi kali ini beda begitu kuat menghujam diantara rasa tidak tegaku serta banyak berkecamuk lainnya.

Begitu selesai breffing itu, dalam diam, telah terjadwalkan untuk bisa selalu temani hari-hari Ibu bila aku dapat libur kerja. ...

Ibu banyak berpesan tentang bagaimana mendidik anak-anak nantinya, dan sesekali Ibu bercerita tentang kesepian beliau serta sedikit cerita tentang salah satu adiku (dia putri) yang mengecewakan beliau, Ibu hanya bilang ;" ternyata benar 'kasih Ibu sepanjang jalan sedang kasih anak sepenggal kata' " spontan aku merasa bersalah karena tak bisa mendidik dia dengan baik, 'maafkan dia ya Bu...'

Kucoba tengok kanan dan kiri, rumah ini memang benar-benar sepi, karena tak satupun ada anak atau pembantu disana untuk temani Ibu, rasanya nyari orang belakang (pembantu) sulit bener , walo kita sudah siapkan anggaran yang agak besar untuk itu, terlebih lagi Ibu memang tidak berkeinginan untuk gabung dengan anak-anaknya dengan alasan senderhana : Ibu merasa lebih nyaman tinggal disini, dan biarlah dekat dengan almarhum ayahmu (upss...bentuk cinta yang abadi).

Satu-satunya jalan yang bisa kulakukan adalah secara berkala phone beliau serta titipkan kepada tetangga untuk sesekali mau melihat keberadaan Ibu.

Kepada temen-temen blogger, bila mungkin ada saran buatku terimakasih banyak, moga itu bisa redakan kekhawatiran yang ada atas Beliau.


Salam - Satrio

22 komentar:

  1. Berbakti kepada orang tua adalah ciri anak yg sholeh dan sholeha

    BalasHapus
  2. amin mas...tapi aku juga sedih, dia lain agama jadi amalan itu akan putus. gimana khabarmu saat ini, lagi sibuk apaan ?

    BalasHapus
  3. wah kang, saya jadi membayangkan ibu saya beberapa tahun yg akan datang.. moga beliau diberi umur panjang sehingga saya dapat terus berbakti.. amin.. makasih sharenya kang..

    BalasHapus
  4. Mamaaaaaaa.... lov mamaaa...

    BalasHapus
  5. Amin, moga Ibu mas Fathan terus sehat, phone lah bila masih sempat atau sungkem ke Ibu

    Makasih ya dah mo mampir ke blog ini

    BalasHapus
  6. elok, makasih dah mo mampir ke blog ini
    ya itulah profil Ibu ku, dan terlebih kamu putri de.... mari kita belajar akan hal itu

    salam -satrio

    BalasHapus
  7. tulisan bagi seluruh mutiara mutiara yang kita sebut ibu..

    BalasHapus
  8. memang orangtua maunya begitu,sama masalahnya dengan ibu saya pak, sudah berumur 85-an, katanya "lebih enak tinggal dirumah sendiri yang reot, dari pada ikut anak-anaknya, ga bebas", ...^_^


    salam jumpa pertama ^_^

    BalasHapus
  9. Benar mereka adalah mutiara dan sangat hebat, sampai ALLAH pun hormat pada Ibu, ridho Ibu adalah ridho Allah, woou.....

    BalasHapus
  10. ya mas...
    mo gimana lagi, kita hanya bisa diem, dari pada ngebantah Ibu hanya bikin luka bathin beliau saja
    makasih ya udah mampir

    BalasHapus
  11. 82 tahun, wow!
    Sabar aja Mas... Namanya juga Ibu, katanya..
    "Ibu selalu benar... "
    *walaupun ga selamanya saya kira itu benar..

    BalasHapus
  12. Hmmm, cerita mu begitu menyentuh mas, mengingatkan ku akan sosok bundaku. Bisa kurasakan spt rasa sepi dalam kedalaman hatinya, rasa yg terkadnag coba ia pendam sdri.
    Hmm, jujur sering aku sampaikan ini ke bundaku : " Kasih ibu sepanjang umur, kasih anak hanya sepenggalan, dan ibu hrs legowo ", krn masing2 punya pribadi dan kepentingan sdri, bgtpun ktka ank2 sdh berumah tangga.

    Hm, mnrtku yg terpenting skrg, brpapun sisa waktu yg Allah kasih buatmu, bundamu jg sdra2 yg lain, berikan byk perhatian walau skedar telp : Ibu gmn kbrnya ?? atau celoteh cucu mrk by phone, itu mjd teman senja mrk dan mjd penawar rindu jg sepinya.

    Salam ~ Jogja

    BalasHapus
  13. Makasih Gek...bagaimanapun juga dia berjasa betul kepadaku juga pada saudaraku, dan aku sendiri akan belajar banyak darinya.

    Makasih dah mo mampir ke blog ini

    BalasHapus
  14. makasih dah mo mampir ke blog ku
    mungkin ide phone dari 'nak..kanak...' akan aku coba untuk hiburan beliau.

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum mas,..:)

    teduh sekali saya membaca tulisan2 ini,jelas bakti dan kasih mas satrio pada bunda tercinta yang subhanallah...diberikan usia yg panjang melebihi baginda Rosul.

    semoga bunda selalu dlm lindungan Allah,dan untuk anak2 nya untuk lebih sering menjenguk beliau.
    melihat foto ibu mas,...terbayang...kita bila diberikan umur panjang pasti akan seperti ibu,sepi dan mngkn sendiri :(

    * terima kasih jg untuk suport dan doanya (menyempatkan mendoakan) mas, alhamdulilah...saya senang sekali,ada seseorang yg mendoakan saya meskipun baru dua kali berkunjung ke rmh virtual ini,ada kelegaan membaca tulisan2 mas.

    Benar,...saya tahu kegelisahan justru bisa membuat sakit saya lebig memburuk,karena faktor psikologis sangat berperan sekali.
    Mohon didoakan,..saya akan menjalani pemeriksaan lanjutan CT Scan menyeluruh,semoga hasilnya tidak terlalu serius :(

    terima kasih sekali lg mas,sdh menjenguk saya dan membaca tulisan2 ngaco saya....

    BalasHapus
  16. Ass. wr. wb

    Oke De...
    sebelum kau baca CT Scan, ambil air zam-zam, bila ga ada, ambil air mineral botol, baca Alfatihah, terus baca Sholawat Ibrahimiah (yang kita bca tiap sholat itu lo de) sebagai pembuka doa' kita, terus bacalah asmaul Husna, biarkan dia mengalir pada air zam zam itu, biarkan bibirmu terus mengucap nanti pada bagian-bagian tertentu akan berhenti dengan sendirinya, karena khodam dari asmaul Husna itu, lantas minum lah, air itu,

    tapi sebelumnya baca dulu doa ini =
    Semoga Allah berikan kesembuhan bagimu

    IMULLAHI A’ZHAM :
    “ALLAHUMMA INNII AS ‘ALUKA BIANNA LAKAL HAMDU, LA ‘ILLAAHA ILLA ANTA WAHDAKA LASYARII KALAKAL MANNANU YABADII ‘ASMAAAWATI WAL ARDHI, YA DZAL JALALI WAL ‘IKROMI, YA HAYUU YA QOYYUUMU, INNI AS ‘ALUKAL JANNAHA, WA AUUDZUBIKA MINANNARI”
    Mintalah kepada Allah SWT setelah bacaan ini Ade : …………………………………………………….

    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, karena segala puji hanya bagi-Mu, tidak ada Ilah [yang berhak untuk diibadahi dengan benar] melainkan hanya Engkau, [tiada sekutu bagi-Mu] yang Maha Pemberi, [wahai] Dzat Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku mohon kepada Mu [Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka]”

    Dari Sahabat ‘abdullah bin Buraidah al-Slamiy dari ayahnya, kemudian setelah orang itu selesai membaca doa tersebut dibawah ini,

    Rasulullah saw bersabda :
    “Demi diriku ditangan-Nya, sesungguhnya ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya Yang Agung (Ismullahil A’zham) yang apa bila berdoa dengannya akan dikabulkan doa’nya dan apabila ia meminta akan diberikan”
    (Hadits riwayat an-Nasa’I 1/279 no. 1233)

    Salam ya De...
    ayo sekarang aku kangen sama ketawamu
    Keluargamu juga gitu de..

    BalasHapus
  17. wss.wr.wb....

    Subhanallah,
    terima kasih mas...insyaallah akan saya laksanakan :)

    akan saya salin doa dan komentar ini di kertas jadi saat saya akan CT scan akan saya baca terus.

    terima kasih sekali lagi mas,... *haru

    benar,...saya juga rindu untuk tersenyum dgn benar2 tersenyum hati dan bibir saya lg.

    meski lega dan sudah tenang,tdk saya pungkiri msh ada sedikit rasa khawatir...
    insyallah suport dan doanya akan menenangkan,amien.

    BalasHapus
  18. ya udah sama-sama
    hanya cukup engkau tahu ya de...itu semua adalah buatmu dari Allah, bukan dari aku...

    Ayo ahh..semangat...dah lama dirimu ga seperti itu
    ayoo...de...yang ceria..., dunia ini loo kangen sama celotehmu, sama tingkah polahmu yang kayak bola bekel itu, he..he.he..

    salam buat keluarga
    satrio

    BalasHapus
  19. keren ibunya Pak..
    sungguh Ibu yang bijak dan patut diteladani

    Pak bisa minta tolong komen di postinganku yang ini ya?
    thanks sebelumnya

    http://www.itikholic.com/2010/06/speedy-dengan-konten-barunya.html

    BalasHapus
  20. udah aku posting de....lihat sana ya
    smoga menang dalam kompetisi itu, amin

    BalasHapus
  21. salam kenal...

    tetap semangat ya untuk berbakti pada ortu...

    aku dah confirm permintaan temannya di FB

    (^__^)

    BalasHapus
  22. Salam kenal juga, Makasih ya De.
    sukses buatmu

    BalasHapus